Mengelola keuangan adalah hal yang paling vital dalam sebuah keluarga.
Kenapa? karena keuangan yang sehat akan membawa dampak hubungan keharmonisan rumah tangganya pula.
Bayangkan betapa banyak keluarga yang cekcok dan bahkan maap-maap cerai gara-gara keuangan yang tidak stabil( Walaupun bukan satu-satunya alasan untuk itu sih-red).
Kadang keuangan yang tidak stabil memberikan efek psikologis bagi seseorang. Orang akan jadi mudah tersinggung dan emosional manakala uangnya bokek…hii…hii…
Nah untuk itu. Coba deh kita merubah sikap mental kita untuk menjadi mental orang kaya. Mental para pengusaha, metal orang yang memiliki kelebihan harta. Bebas Finansial. Merdeka! Wow…
Dalam sebuah keluarga ada ciri-ciri keluarga yang termasuk miskin, menengah atau kaya. Ini penting banget karena kalau kita tidak tahu kita termasuk jenis keluarga apa ekonominya maka bodoh namanya.
Bagaimana akan kaya, wong kita sendiri aja tidak tahu jenis keluarga apa.Betul tidak?
Seperti yang dikatakan oleh salah satu pakar perencana keuangan Safir Senduk dalam bukunya Karyawan Harus Nabung biar Makmur (2008) mengatakan bahwa keluarga dibagi menjadi keluarga miskin, menengah dan kaya.
Apa ciri keluarga miskin. Apakah penghasilannya 300 ribu perbulan? Apakah penghasilannya 1 juta? Ataukah penghasilannya 10-20 juta perbulan? Ternyata orang yang penghasilannya 10 juta per bulan pun bisa dikategorikan dengan orang yang miskin.
Lho emang kenapa?
Nah ternyata yang menyebabkan seseorang dikatakan miskin atau kaya adalah tergantung bagaimana dia menggunakan penghasilannya.
Semisal ada keluarga yang penghasilannya 5 juta per bulan. Gede tuh untuk ukuran UMR. Tapi untuk menghidupi kebutuhan keluarganya yang berjumlah 4 orang termasuk anaknya dia harus mengeluarkan 5 juta pula. Bahkan kadang harus menomboki. Waduh..waduh!
Nah tipe keluarga yang seperti ini disebut keluarga miskin. Entah dia berpenghasilan 5 juta, 10 juta, atau bahkan 50 juta tapi sistemnya seperti itu besar pengeluaran dari pada pemasukkan maka dia termasuk keluarga miskin.
Bagaimana tidak miskin dia selalu kehabisan uang ditiap akhir bulannya bahkan kadang harus utang sana kemari.Ngenes deh,
dapat uang banyak tapi tetap kurang.
Tipe kedua adalah keluarga menengah. Tipe ini dicirikan dengan memiliki sisa ditiap bulan dari pemasukkannya untuk ditabung atau disimpan. Keluarga seperti ini agak lebih tenang karena dia tidak diburu oleh petugas colector untuk melunasi utangnya. (bagi yang diburu debt colector jangan kesinggung ya..)
Kemudian apa ciri keluarga kaya? Apakah aku termasuk didalamnya? Keluarga yang bebas finansial dan semua orang menginginkan termasuk didalamnya? Apa sih cirinya?
Cirinya adalah setiap akhir bulan pasti bisa menyisihkan sebagian uangnya.
Lho yang membedakan apa?
Pasti ada yang tanya kan?
Yang membedakan adalah keluarga kaya dapat menyisihkan sekaligus dapat investasi. Maksudnya apa? Maksudnya adalah dia mengeluarkan
uang dari simpanan yang ada untuk membeli atau menanamkan baik dalam bentuk asset ataupun deposito yang bisa menghasilkan uang.
Semisal untuk membeli asset sebuah mobil angkutan yang bisa disewakan. Mobil tersebut tentunya tiap bulan dapat mengasilkan. Tapi perlu diingat bukan mobil konsumsi ya, artinya yang hanya dipakai oleh dirinya sendiri dan tidak memberikan pendapatan.
Contoh lain misalkan disimpan dalam sebuah tabungan berjangka atau reksa dana. Tabungan berjangka atau deposito itu pasti tiap bulan walaupun kecil menghasilkan uang juga sebagai pendapatan dari bank. Uang masih utuh tapi mendapatkan bagi hasil. Kan enak…Betul ga?
Nah sahabat yang budiman coba sekarang pikir di golongan manakah kita?
Apakah kita termasuk keluarga miskin, menengah atau kaya. Apakah harta kita bisa bermanfaat untuk orang lain? Bukankah kita pilih jadi orang kaya dan bisa memberikan sebagian harta kita kepada orang lain?
Filed under: keuangan | Tagged: tipe keluarga kaya, tipe orang kaya


